Kolaborasi Kiai Kanjeng dan Tarian Papua

“Saya grogi kalau melihat orang Papua. Takut. Padahal saya sangat ingin berkenalan dan berteman dengan mereka.”

Sepenggal kalimat bernada seloroh itu dilontarkan Fauzi, seorang santri jemaah Maiah, dalam sebuah dialog pada acara Mocopat Syafaat binaan Emha Ainun Najib alias Cak Nun pada Rabu malam lalu. Kontan saja, hadirin pada acara yang digelar di kompleks Taman Kanak-kanak Islam Terpadu, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, itu menyambut lontaran tersebut dengan gelak tawa bercampur heran.

Puluhan warga Papua yang hadir pun menyambut pernyataan itu dengan tersenyum. Ketua mahasiswa asal Papua di Yogyakarta, Anton Sayori, yang tampil malam itu, mengibaratkan orang Papua bak durian. “Meski kulitya berduri, dalamnya, wah, enak sekali,” katanya, berseloroh. “Kami orang Papua hanya kelihatannya yang sangar, tapi hati kami sangat lembut,” ujar Anton, yang disambut tepuk tangan para jemaah.

Malam itu, segala perbedaan-baik budaya, suku, ras, atau agama-hilang ketika disandingkan dalam pengajian Mocopat Syafaat. Acara yang boleh dibilang sebagai silaturahmi budaya itu diawali dengan lantunan gamelan Kiai Kanjeng yang mengiringi tembang Gundhul-gundhul Pacul. Tembang tradisional Jawa yang sederhana itu menjadi tak lagi sederhana karena diiringi gamelan yang dipadukan dengan gitar, bas, organ, dan seruling.

Setelah itu, di atas panggung sederhana tampil empat orang Papua yang menyanyikan lagu Apose Kokon Dao. Lagu asli Papua itu menjadi terasa menarik dengan diiringi gamelan khas Kiai Kanjeng. Seperti diketahui, gamelan Kiai Kanjeng merupakan nama sebuah konsep nada pada alat musik “tradisional” gamelan. Sistem tangga nada yang dipakai pada gamelan lazimnya adalah laras pentatonis yang terbagi dalam dua jenis nada: pelog dan slendro. Adapun gamelan Kiai Kanjeng bukan pelog dan bukan slendro.

Eksplorasi musik Kiai Kanjeng hampir tak membatasi dirinya pada jenis atau aliran musik tertentu. Sebab, secara musikal, instrumen musik Kiai Kanjeng memiliki pelbagai kemungkinan, sehingga pengembaraan cipta mereka sangat ragam: dari eksplorasi musik tradisional Jawa, Sunda, Melayu, hingga Cina. Termasuk penggalian dari berbagai etnik lain, seperti Madura, Mandar, Bugis, dan Papua, seperti yang digelar dalam Mocopat Syafaat.

Dalam acara yang digelar rutin pada tanggal 17 setiap bulannya itu dimeriahkan pula oleh tarian Tumbuk Tanah asal Manokwari, Papua. Sebanyak 14 penari-dua di antaranya perempuan-merupakan warga asli Papua yang berada di Yogyakarta. Mereka mengenakan pakaian khas Papua lengkap dengan panah dan tombaknya.

Tarian berupa gerakan-gerakan tari yang energetik ditingkahi pekikan-pekikan itu terbagi dalam dua babak. Pertama, para penari menyuguhkan tarian perang. Lalu, pada babak kedua, mereka menampilkan tarian sebagai sambutan kepada para pejabat yang telah menyetujui pembentukan wilayah baru Manokwari.

Kehadiran warga Papua dalam Mocopat Syafaat ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya, tepatnya pada 17 Desember 2009, mereka hadir dalam acara serupa. Mereka sangat senang pada sambutan ratusan jemaah yang hadir. Dengan bergabung dalam pengajian Mocopat Syafaat, mereka merasa bisa bergaul dengan masyarakat yang hadir pada acara tersebut tanpa membedakan asal dan suku.

Pada pertengahan acara yang dipandu oleh Cak Nun itu, semua hadirin yang datang dari pelbagai kalangan berdiri dan bernyanyi bersama. Sambil bergandengan tangan, mereka menyanyikan lagu Tanah Airku diiringi gamelan Kiai Kanjeng.

Dalam pidatonya, Cak Nun menyatakan bahwa ada tiga hal pokok bagi semuanya, terutama warga Papua, yang harus dijaga, yakni martabat, harta, dan nyawa. “Harta jangan dicuri, martabat jangan diinjak, dan nyawa harus dilindungi,” kata budayawan tersebut.

Forum Mocopat Syafaat adalah forum pengajian yang diampu oleh Cak Nun dan telah berlangsung sejak 17 Juni 1999. Yang hadir dalam forum tersebut tak hanya masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, tapi juga dari daerah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur, seperti Purbalingga, Wonosobo, Semarang, Pacitan, dan Surabaya.

Mocopat Syafaat merupakan salah satu dari enam forum sejenis yang diampu Cak Nun, yakni Padhang Bulan Jombang, Gambang Syafaat Semarang, Kenduri Cinta Jakarta, Bangbangwetan Surabaya, dan Obor Ilahi Malang. Keenam forum itu bersifat terbuka, mengedepankan persaudaraan sesama manusia, berupaya bersama mencari alasan untuk saling menghormati, serta berupaya menegakkan nasionalisme dan kebersamaan.

Source: Tempo Interaktif

Advertisements

Leave a comment

Filed under Papua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s